Laman

Minggu, 23 Oktober 2011

WISATA TUGU BERSEJARAH DI BUKITTINGGI


Saat pulang ke Bukittinggi beberapa saat lalu, saya sempat iseng melakukan wisata kecil-kecilan disana. Wisata yang saya lakukan kali ini bukan sekedar wisata biasa. Bukan wisata yang bisa dilakukan oleh banyak orang seperti berkunjung ke Jam Gadang, menikmati indahnya Ngarai Sianok, wisata sejarah ke Lobang Jepang, ataupun wisata kuliner di Los Lambuang. Bermodalkan satu kamera poket digital, saya mulai mengiatari kota Bukittinggi di sore hari untuk berwisata menikmati tugu-tugu bersejarah di Kota Bukittinggi.

Pada awalnya, ide ini terpikirkan saat malam harinya saya bersama pacar menikmati keindahan Jam gadang. Saat asik mengambil gambat Jam Gadang, terpikirkan kenapa saya tidak mengabadikan semua tugu bersejarah yang ada di Bukittinggi. Ya, dan akhirnya saya memutuskan besok harinya untuk berwisata mengelilingi kota Bukittinggi mengabadikan keindahan tugu-tugu bersejarahnya.

Sekitar abis shalat ashar, saya berangkat dari rumah yang berada di Gulai Bancah menggunakan sepeda motor. Perjalanan saya mulai ke arah Bukik Ambacang, pacuan kuda, dimana disana berdiri sebuah replika Jam Gadang berukuran kecil sebagai tanda batas kota.

Jam Gadang mini ini terletak di jalan dari Luak Anyia menuju Gadut, persis di sisi jalan di depan tribun penonton. Tingginya kira-kira sekitar dua meter. Jam Gadang mini ini menjadi batas kota Bukittinggi sebelah utara. Setiap orang yang keluar Bukittinggi dari pusat kota menuju arah utara (Palupuah, Lubuak Sikapiang,Medan) pasti melewati tugu ini.


Selanjutnya saya bergerak ke arah Simpang Tembok. Di perempatan jalan berdiri sebuah patung yang memiliki tinggi sekitar lima meter. Terlihat seorang pejuang sedang menunggang kuda sembari menghunuskan Karih-nya (senjata tradisional Minangkabau) ke langit.

Tugu ini bernama Monumen Imam Bonjol. Monumen ini dibangun untuk memperingati perjuangan Tuanku Imam Bonjol. Tuanku Imam Bonjol berasal dari Bonjol yang sangat taat memeluk agama islam. Pengikut Tuanku Imam Bonjol bernama Kaum Paderi. Kaum Paderi sangat menentang sifat Kaum Adat yang suka meminum minuman keras, berjudi, menyabung ayam, berkelahi dan merampok. Pada tahun 1821-1837 terjadilah Perang Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol melawan Kaum Adat yang dibantu oleh Belanda. Namun Kaum Paderi menang, bahkan perlawanan sampai ke daerah Bukittinggi. Tuanku Imam Bonjol dibantu oleh Haji Sumanik, Haji Piobang, Haji Miskin, dan lain-lain



Puas dengan Monumen Tuanku Imam Bonjol, saya melanjutkan perjalan ke arah Rumah Sakit Achmad Muchtar (RSAM) Bukittinggi. Di pertigaan jalan persis di depan kantor Samsat lama terdapat sebuah tugu berwarna putih kekuningan karena dimakan cuaca, berbentuk persegi panjang, dan terletak di sebuah taman

Dibagian atas monumen ini terlihat sebuah ukiran dua buah parang yang yang disilangkan dibawah sebuah Rumah Gadang. Disampingnya tertulis “PERLAWANAN RAKJAT MENENTANG KOLONIALISME BELANDA 15 DJUNI 1908”.

Tugu ini diusahakan oleh Panitia Pusat Hari Peringatan Sumatera Barat Menentang Pendjadjahan Belanda.

Selanjutnya saya melanjutkan perjalanan sore saya dengan berkeliling ke arah Panorama, Simpang DPRD, Kampuang Cino, dan sampai pada akhirnya saya menemukan sebuah tugu di sebelah kiri jalan yang tamannya banyak digunakan muda-mudi untuk memadu kasih. Wah, ini merupaka salah satu bentuk penyalah-gunaan fungsi tugu bersejarah untuk keperluan pribadi :p


Terlihat sebuah taman yang cukup bersih yang ditengahnya terdapat bentuk yang sedikit abstrak di bagian bawah, dan sebuah patung manusia. Patung tersebut sedang mengangkat kedua tangannya ke atas dan di tangan kirinya sedang memegang sesuatu.

Tugu ini bernama Tugu Pahlawan Tak Dikenal. Tugu ini dibangun untuk mengenang gugurnya para pahlawan yang tak bisa dikenal secara pasti dalam menentang kolonialisme Belanda pada tanggal 5 Juni 1908.

Peletakan batu pertama dilakukan oleh Jend. A.H. Nasution pada tanggal 15 Juni 1963 dan diresmikan tahun 1965. Konstruksi bangunan tugu diciptakan oleh seorang seniman bernama Hoerijah Adam (1936-1971) yang meninggal akibat kecelakaan pesawat.

Setelah membaca papan informasi yang ada di sekitar tugu, baru lah saya tahu bahwa bagian bawah bukan bentuk abstrak seperti yang saya narasikan diawal. Bagian bawah tugu ini berbentuk ornamen lingkaran ular naga yang besar, diatasnya berdiri patung seorang pemuda memegang bendera, namun stetelah disambar petir, patung diatasnya sudag diganti tapi tidak ada benderanya. Disisi lain tugu ini dihiasi oleh lingkaran tembok pagar yang dipenuhi oleh relief yang menggambarkan perlawanan rakyat dalam menentang kolonialisme Belanda untuk merebut Kemerdekaan Indonesia.


Persis di depan Tugu Pahlawan Tak Dikenal ini, terdapat sebuah patung laki-laki berkaca mata, berpostur tegap, berpakaian rapi, menggunakan peci, dan melambaikan tangannya seakan menyapa setia orang yang lewat di depannya.

Patung ini bediri di sebuah areal taman yang ditata secara rapi dan bersih. Terlihat beberapa anak tangga berjejer di bawah patung ini. Namun, area taman ini tidak diperbolehkan untuk dimasuki. Pengunjung hanya bisa melihat patung ini dari luar pagar saja.

Setahu saya, tugu dan monumen ini adalah yang paling baru di Bukittinggi. Sewaktu kecil disini hanya terdapat taman sebagai area bermain keluarga.

Taman ini bernama Taman Monumen Bung Hata. Patung yang saya deskripsikan di awal adalah Muhammad Hatta atau lebih dikenal dengan panggilan Bung Hatta, Sang Proklamator Republik Indonesia. Bung Hatta merupakan anak nagari Bukittinggi, beliau lahir di Bukittinggi persis nya di rumah orang tuanya di Jl. Soekarno Hatta Bukittinggi. Rumah kelahiran beliau tersebut sekarang sudah dijadikan Museum.


Matahari sudah sedikit bersahabat, Bukittinggi terasa sangat sejuk, dan saya melanjutkan perjalanan ke arah selatan, tepatnya ke Jl. Sudirman. Persis di depan Kantor Pos Bukittinggi atau yang lebih dikenal dengan sebutan Simpang Stasiun, saya memakirkan motor saya di depan warung kecil di pertigaan jalan tersebut.

Di pertigaan jalan itu bediri sebuah tugu menjulang ke atas sekita tiga meter. Tugu ini dikelilingi pagar besi dengan hiasan atap rumah gadang di setiap sudutnya. Di papan informasinya tertulis “MONUMEN POLWAN” Memperingati Lahirnya Polwan Pertama di Indonesia.

Monumen Polwan ini bernama “ESTHI BHAKTI WARAPSARI”. Diresmikan di Bukittinggi tanggal 27 April 1993 oleh Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Drs. Banurusman.


Bergeser sedikit ke arah selatan, tepatnya di sebelah Lapangan Wirabraja (Lapangan Kantin) Bukittinggi, saya kembali berhenti dan menyiapkan kamera poket saya yang batrai sudah hampir habis.


Terlihat taman yang cukup luas dengan rumput teki pendek yang mengeliling sebuah monumen. Sebuah batu besar berbentuk persegi panjang berwarna hitam dan dihiasi dengan relief pedang dan senapan yang disilangkan. Diatasnya bediri seorang opsir tentara berbadan tegap yang memegang sebuah pedang dan berlagak seperti orang yang sedang berperang.

Diatas pedang dan senapan yang disilangkan tadi tertulis “ MONUMEN PENDIDIKAN OPSIR DIVISI IX BANTENG SUMATERA TENGAH”. Dan dibawahnya juga tertulis sebuah kalimat yang tidak saya mengerti: “ciwis pacem para bellum”

Namun, sayangnya kondisi taman di monumen ini sedikit tidak terawat. Terlihat sampah berterbaran dan bagian bawah monumen yang sudah berlumut.

Ternyata di Jl. Sudirman ini banyak menyimpan tugu-tugu bersejarah. Tidak beberapa jauh dari tugu Opsir tadi, tepatnya di kawasan Sekolah Menengah Negeri (SMAN) 2 Bukittingi. Sekolah yang dikenal dengan sekolahnya para raja di jaman Belanda dulu. Bangunan utamanya pun masih berdiri kokoh dengan ciri khas bangunan khas kolonial.


Beberapa meter setelah gerbang masuk, saya berjalan ke arah kanan dan menemukan sebuah monumen yang tidak terlalu besar.

Monumen ini terbuat dari sebuah batu berwarna hitam yang di depannya terdapat pahatan yang bertuliskan “KENANGAN BAGI TENTARA PELADJAR JANG TELAH GUGUR”. Di bawahnya tertulis 17 nama pelajar yang telah gugur berikut asal kota mereka. Para pelajar ini berasal dari Kamang, Pariaman, Paninjauan, Kapeh Panji, Sungai Pua, Galo Gandang, Muaro Lanuah, dan Padang Utara. Monumen ini diresmikan pada tanggal 17 Agustus 1985 di Bukittinggi.









Terus beranjak ke selatan, dan akhirnya pun saya kembali menemukan tanda batas kota Bukittinggi. Tepatnya di daerah Jambu Aia. Berdiri di sisi jalan sebellah kiri dan hampir tertutup oleh bangunan toko, tugu ini menjadi batas kota arah selatan Bukittinggi.Merasa telah sampai di batas kota, saya pun memutuskan berbalik arah dan melanjutkan ke arah timur kota.






Cuaca sore kota Bukittinggi memang sangat khas. Sedikit pancaran cahayamatahari membuat udara kota yang tidak teralu dingin di sore hari. Sangat cocok untuk berjalan-jalan mengelilingi kota.

Tapi, di tengah jalan saya dikejutkan oleh sebuah tugu yang asing buat saya. Sempat terlewat di perjalanan menuju tugu di SMAN 2 tadi. Letaknya pun sedikit tersembunyi di samping warung pecel lele dan terlihat sangat tidak terurus. Tugu ini terletak di depan Sekolah Menengah Kejuruan Swasta di areal perumahan Kodim. Di tugu tersebut terukir sebuah tulisan : GEDENKNAALD TER MERDENGKING AAN GESNEUVELDEN. TE KAMANG. EN MANGGOPOH OPSTAND 15 JUNI 1908. Berikut fotonya:


















Tidak lama di tugu tadi, saya pun melanjutkan perjalanan ke arah timur Bukittinggi. Saya memutuskan mengambil jalur Tarok, Aua Kuniang, dan selanjutnya ke arah Tanjuang Alam.

Di pertigaan setelah terminal Aua menuju Ampang Gadang, tepatnya di daerah yang bernama Tigo Baleh, saya menemukan sebuah tugu di tengah jalan berwarna merah kuning dan hitam. Tugu ini dibuat untuk memperingati hari masuknya ABRI ke Bukittinggi. Ha ini terbukti dari tulisan yang tertulis di bagian bawah tugu ini. ”ABRI MASUK DESA. MANUNGGAL XIV 25 November 1983













Dan pada akhirnya pun saya sampai di batas kota yang ke tiga, yaitu

di daerah timur Bukittinggi. Jam Gadang mini pun kembali saya temukan. Terletak di sebelah kiri jalan Soekarno Hatta menuju daerah Tanjuang Alam.

Jam gadang mini ke tiga ini merupakan batas kota Bukittinggi sebelah timur yang membatasi kota dengan daerah Tanjuang Alam, Biaro, Ampek Angkek, Baso dan Payakumbuah.









Hari beranjak gelap, batrai kaera pun semakin berkurang. Saya memutuskan untuk ke pusat kota. Jam Gadang tujuan saya. Ini lah tugu paling bersejarah di Bukittinggi. Tugu yang sejak dulu telah menjadi icon kota Bukittinggi. Pusat kota, pusat hiburan keluarga, pusat jajanan, pusat aksesoris, dan pusat aktivitas masyarakat kota Bukittinggi. Ini lah beberapa foto jam Gadang yag saya potret saat itu:
































Jumat, 06 Mei 2011

VIEWFINDER (My Film)




Silahkan tonton trailler nya disini

Sabtu, 19 Februari 2011

Jika Aku Menjadi Pak Aman Ketua RW 04 (KKNM Dunguswiru)

Pak Aman, entahlah, saya juga tidak tahu siapa nama lengkap Ketua RW 04 Desa Dunguswiru ini. Tapi saya sangat tertarik dengan pria paruh baya berperawakan kecil, hitam dan berambut ikal ini. Pertama kali bertemu saat di Kampung Bakom ketika ada kerja bakti pembuatan jalan. Saya dibuat terkejut oleh kata-kata pertama yang keluar dari mulut pria kocak ini yang belum saya kenal sebelumnya. Ketika sedang bersusah payah mengangkat dua ember pasir, Pak Aman berkata dengan cueknya “ Udah Dek, jangan diangkat sekaligus dua ember, berat, bapak aja yang ganteng cuma ngangkat satu ember”, dengan logat sunda yang kental. Ini bapak-bapak lucu juga ungkap saya dalam hati.

Pertemuan selanjutnya ketika Sosialisasi KKNM di Kantor Desa. Ketika tak ada yang mau tampil sebagai perwaiklan tiap RW, majulah Pak Aman sebagai perwakilannya. “Bapak mah grogi kalau disuruh ngomong formal gini, mending bapak ngabodor aja” ucapnya. Seketika para hadirin langsung tertawa, mungkin karena mereka sudah kenal dengan sosok pria kocak ini.

Pernah suatu saat, Pak Aman dating berkunjung ke rumah kontrakan kami. Disitulah kami sempat ngobrol panjang. Ternyata Pak Aman sudah menjabat ketua RW selama 28 tahun. “Ya gimana Dek, gak ada lagi yang mau jadi Ketua RW, soalnya gak ada duitnya, gak seperti di kota”, ucap pria yang selalu memanggil saya dengan sapaan “Dek” ini, mungkin lebih nyaman seperti itu, atau memang lupa nama saya. Ya sudahlah, bukan itu inti dari cerita ini sebenarnya.

Pak Aman punya tiga orang anak yang semuanya perempuan. Dua sudah menikah dan ikut suaminya dan satu lagi baru lulus SMK. “Walaupun bapak hanya sekolah sampai kelas dua SD, tapi semua anak bapak lulus SMA Dek” ucapnya dengan penuh rasa bangga.

Pada saat persiapan Perpisahan KKNM UNPAD, sangat terlihat dedikasi Pak Aman sebagai warga sekaligus Ketua RW. Beliau mengerahkan beberapa anggota masyarakat untuk terlibat dalam kerja bakti persiapan perpisahan kami. Jam delapan pagi, Pak Aman sedah siap dengan teman paruh baya yang lain, sementara kami, peserta KKNM, masih sibuk dengan kegiatan masing-masing, padahal ini acara perpisahan kami. Tidak pentinglah semua itu, inti cerita ini adalah Pak Aman. Persiapan acara pun selesai berkat bantuan Pak Aman dan teman paruh bayanya.

Satu hal lagi yang membuat saya kagum. Pak Aman mempunyai jam kerja yang teratur walaupun hanya seorang petani. Setelah sarapan pagi, beliau berangkat ke sawah sampai menjelang Zuhur. Setelah itu beliau Shalat Zuhur di Mesjid samping rumahnya. Manjelang Ashar diisi dengan pekerjaan beliau sebagai Ketua RW. “Setelah Ashar sampai malam mah acara bebas Dek” ucap beliau sambil tertawa.

Sampai pada acara puncak Perpisahan KKNM UNPAD, Pak Aman masih antusias menyaksikan acara kami. Ditambah lagi dengan tampilnya beliau ke atas panggung, dan pastinya dengan kelucuan yang beliau miliki. Beliau mampu membangkitkan semnagat penonton yang sudah mulai mengantuk. Pada saat pemutaran film dokumenter mengenai KKNM dan Desa Dunguswiru, Pak Aman terlihat sangat antusias karena beberapa kali beliau sempat muncul di layar. “Tuh kan Dek, kalau orang ganteng mah selalu ada dimana-mana” ucapnya dengan diikuti tawa penonton lainnya. Saya pun semakin dengan tingkat percaya diri beliau. Kepercayaan diri memang kurang dari remaja zaman sekarang, belum mencoba sudah bilang tidak bisa.

Kalaupun sempat berkunjung lagi ke Desa Dunguswiru, rumah Pak Aman lah yang pertama kali saya kunjungi. Dan hal terakhir yang membuat saya kagum adalah tanggapan masyarakat desa terhadap Pak Aman. Hampr setiap warga mengucapkan hal yang sama. “Ya kalau Ketua RW nya saja nama nya Pak Aman, ya sudah pasti lingkungannya juga aman”.

Jumat, 17 Desember 2010

Kacang Rebus, Si Penghias Jam Gadang


Selasa, 14 Desember 2010. Akhirnya nulis juga setelah sibuk kerja sosial di kampus. Lumayan lah, lebih 2 bulan saya ga nulis. Dan kebetulan beberapa hari yang lalu baru balik dari Bukittinggi, jadi ada bahan.
Kebetulan tanggal 2-7 desember kemaren saya pulang ke Bukittinggi dikarenakan ada urusan keluarga. Walaupun cuma sebentar, ya lumayan lah. Dan kebetulan juga, tanggal segitu juga ada kerja sosial di kampus, tapi apa hendak dikata, saya harus pulang. Tapi kali ini, kecuali keluarga di rumah, tak ada yang tau saya pulang, termasuk fany, sengaja.
Batavia Airlines jam 10.50 WIB, tapi saya blom makan. Dengan semangat tinggi saya mencari tempat makan yang lumayan murah di bandara. Sekedar informasi buat teman2 yang punya duit pas2an tapi mau makan enak dan murah di bandara, di parkiran motor Bandara Soekarno Hatta dan Bandara Internasional Minangkabau terdapat tempat makan yang lebih murah dibandingkan yang ada di bandara. Biasanya untuk karyawan bandara, tapi penumpang juga banyak koq yg makan disini, cuma orang2 banyak yg ga tau.
Singkat cerita, pesawat hampir mendarat di BIM sekitar jam 12.30. tapi, dari pengeras suara terdengar bahwa pendaratan akan ditunda dan dialihkan ke Bandara Polonia Medan. Kenapa? Karena baru saja di Padang terjadi Gempa berkekuatan 4,2 SR. Untung saja ga jadi, pesawat tetap mendarat di BIM walaupun ditunda beberapa menit.
Dari bandara, saya langsung ke kos fany sekalian bareng pulang ke Bukittinggi. Nyampe kosan nya, biasalah ada adegan dimana mata fany berkaca-kaca karena kaget dan tidak percaya melihat saya pulang. Udah ya, takut dikira sinetron.
Nah, inti sebenarnya adalah ketika saya dan fany jalan2 ke Jam Gadang, ciri khas kota Bukittinggi. Bagi orang Bukittinggi asli, jalan2 di pelataran Jam gadang adalah hal yg biasa, mungkin sangat biasa. Namun kali ini saya menemukan pengalaman yang luar biasa (menurut saya yg sotoy ini) ketika asik memotret Jam Gadang. Dahulu, banyak keluarga yang menghabiskan waktu malam nya di pelataran Jam Gadang. Sekedar melepas kepenatan sepulang kerja atau mengajak buah hati menikmati temaramnya lampu kota di bawah Jam Gadang yang menjulang tinggi. Beda dengan sekarang, Jam Gadang berdiri sendiri tanpa tawa renyah anak-anak di sekelilingnya.
Tapi, kali ini ada Keyla, gadis mungil sekitar 1 tahunan sedang asik berlarian ditemani ayahnya. Sesekali hampir terjatuh karena keyla baru belajar berjalan. Keyla berjalan ke arah saya karena tertarik melihat blits kamera. Senyum indah terlihat dari bibir mungilnya ketika beberapa kali saya foto menggunakan blits. Tak hanya Keyla, banyak keluarga lain yang masih setia bermain di Jam Gadang yang mulai ditinggalkan kaum muda.
Di sudut lainnya, seorang bapak paruh baya ditemani lampu strongkeng nya (petromaks) mulai mengantuk karena kacang rebus nya tak ada yang membeli. Diatas gerobak tua, si kacang rebus mengeluarkan asap hangat untuk menarik pembeli. Namun, tak ada lagi yang suka dengan makanan tradisional ini. Sangat berbeda dengan beberapa tahun lalu, ketika masih kecil saya diajak papa nonton layar tancap di pelataran Jam gadang. Layar berukuran 3x2 meter yg diletakkan di atas mobil bertuliskan KB. Waktu itu saya pun tak tau apa itu KB. Yang saya tau adalah kacang rebus selalu menemani saya ketika film diputar. Namun sekarang, kacang rebus hanya menjadi penghias Jam gadang yang tidak lagi digemari. Di sisi lain, bapak penjual kacang rebus masih semangat memompa lampu strongkeng nya ketika kaus nya mulai redup. Dan yang ia inginkan hanya kacang rebusnya terjual habis seperti dahulu.
Tak ada lagi suasana Jam Gadang seperti dulu, tak ada lagi senyum penjual kacang rebus yang dagangannya habis, dan tak ada lagi mobil KB yang menyediakan tontonan gratis. Yang ada hanya bangunan2 tinggi dan pusat perbelanjaan yang rame dikunjungi pembeli. Sementara pelataran Jam Gadang kosong melompong. Hanya ada Keyla dan si penjual kacang rebus yang mulai dingin tak berasap lagi.
Saya dan fany pun berjalan meninggalkan Jam Gadang menuju Kampung Cina, ditemani lampu-lampu toko yang semakin redup dan jalanan yang kosong tanpa lalu-lalang kendaraan.