Senin, 20 September 2010
Sabtu, 18 September 2010
Bukittinggi, Kota Terindah di Indonesia
13.48 WIB, Sabtu, 18 September 2010, Kota kecil nan indah, Bukittinggi, diguyur hujan, dan tentu saja listrik padam. 76 hari 6 jam 20 menit semenjak keberangkatan ku dari pinggiran kota tempat ku menuntut ilmu. Daerah perbatasan yang cenderung kumuh dan padat oleh ilmu dan mahasiswa. Sudah lebih 2 bulan aku melepas rindu dengan suasana disini sejak tanggal 5 juli bus Bintang Kedjora langgananku melewati batas provinsi Jambi – Sumatra Barat. Dua hari perjalanan dari 3 juli membuat pinggang dan pantatku sangat tidak enak. Dan pukul 03.49 WIB dini hari akhirnya aku melihat sesuatu yang sangat kukenal. Sebuah motor Suzuki Tornado yang asap knalpotnya sering membuat ku pusing sedang parkir di depan kantor agen bus Bintang Kedjora. Ya, seorang lelaki paruh baya, sekitar 51 tahun sedang asik menikmati rokok kretek dan terlihat tubuh kurusnya diselimuti beberapa jaket tebal. Ku gendong ransel berwarna hijau tua warisan abangku dan langsung turun mencium tangan lelaki itu. “Lai baok jaket yan?” ucapnya. “Lai Pa” jawabku sambil berjalan ke motor kesayangan Papa. Dengan sekali tendangan firstime ala Roberto Carlos, si Tornado langsung memecah sunyinya pagi dengan suaranya yang sangat tidak enak. Bau khas keluar dari knalpotnya. Motor beranjak pulang sambil kunikmati indahnya Bukittinggi jam 4 pagi.
Dari kejauhan terlihat megahnya Kantor Walikota yang dihiasi temaramnya lampu jalan. Sebentar lagi aku akan sampai dirumah, ucapku dalam hati. Komplek Pemda II Gulai Bancah, tulisan di gerbang komplek yang berkarat sudah aku lalui. Itu dia, dan masih ada, jalan dari tanah tanpa aspal yang sangat becek kalau hujan turun. Diseberangnya berdiri rumah berwarna orange dan ada 3 orang yang sedang tidur nyenyak didalamnya. Ternyata Mama sudah berdiri di depan pintu, mungkin kebangun karena suara motor Papa. “Assalamualaikum” ucapku sambil mencium tangan Mama. “Walaikumsalam, baru tibo baru yan?” tanya Mama dengan mata sipit seperti orang cina. “Iyo Ma, jalan putuih di Lampuang”. “Makan lah dulu, tu lai sambalado ah, Ama ka lalok baliak, bisuak ama sakola pagi”. Ucapnya sambil masuk ke kamar. Sambalado, cabe merah kriting yang dikukus diatas nasi lalu digiling pake Batu Lado ditambah ikan asin yang digoreng kering. Ini salah satu hal yang membuatku kangen rumah. Selesai makan kulihat Vina dan Icha, dua orang adik perempuanku, dikamarnya sedang tidur dengan gaya bebas. Mereka berdua sangat bebas berekspresi kalau sedang tidur, sangat ekspresif. Lalu aku beranjak kelantai 2, ke kamar, langsug tidur, dan pingang serta pantat ku akhirnya mendapatkan tempat yang nyaman.
Jam 11.00, aku bangun, mandi, pake baju yang rapi, ambil handphone, sms, “aku brgkt”. Dan aku langsung berangkat dan sampai. Di depan gerbang rumah terlihat seorang gadis dengan rok panjang terurai dihiasi warna-warni pulkadot kecil-kecil dan motif bunga, atasannya dipadu-padankan dengan kerudung warna senada dengan baju bergarisnya. Dia adalah Mitra Fany Mahesa, pacarku. Mungkin sudah lebih 7 bulan aku tidak bertemu. “Assalamualaikum” ucapku sambil masuk kerumahnya. “Walaikumsalam, masuak lah sayang”. Jawabnya dan langsung kupotong “ Manih bana galak, dek pakai behel baru mah yo, hahahah”. Tapi matanya sedikit berair, mungkin luapan rindu lama tak bertemu sudah tak kuasa dibendungnya. Tubuh kurusku langsung dipeluk erat, “Fany taragak bana samo put”, ucapnya sambil terisak. Beberapa jam ngobrol kesana kemari, kami jalan-jalan keluar sambil cari makan. Langsung berangkat pake motor jadul punya ku.
Gggrrrr, ggrrrr, getar handphone diatas meja menghentikan obrolan kami. “Ani capek pulang, sabanta lai travel tibo”. Itu sms dari Mama nya Fany. Kami langsung pulang. Di depan rumah sudah menunggu sebuah mobil travel berwarna merah maroon. Fany bergegas mengambil barang-barangnya, izin ke Mamanya, mencium tanganku, dan masuk ke dalam travel. Ya, dia belum libur kuliah, jadi harus balik ke Padang. Mobil travelpun hilang dari pandangan mataku. “Bilo pulang yan” tanya Mama Fany pada ku. “ tadi malam tibo ma”, jawabku sambil diikuti obrolan ringan didepan rumah Fany. Beberapa saat, aku ijin pulang.
Baru satu hari bertemu udah pisah lagi, ucapku dalam hati. Tapi kali ini hanya di Padang, hanya 2 jam dari rumah. Oke, besok aku ke Padang.
Dari kejauhan terlihat megahnya Kantor Walikota yang dihiasi temaramnya lampu jalan. Sebentar lagi aku akan sampai dirumah, ucapku dalam hati. Komplek Pemda II Gulai Bancah, tulisan di gerbang komplek yang berkarat sudah aku lalui. Itu dia, dan masih ada, jalan dari tanah tanpa aspal yang sangat becek kalau hujan turun. Diseberangnya berdiri rumah berwarna orange dan ada 3 orang yang sedang tidur nyenyak didalamnya. Ternyata Mama sudah berdiri di depan pintu, mungkin kebangun karena suara motor Papa. “Assalamualaikum” ucapku sambil mencium tangan Mama. “Walaikumsalam, baru tibo baru yan?” tanya Mama dengan mata sipit seperti orang cina. “Iyo Ma, jalan putuih di Lampuang”. “Makan lah dulu, tu lai sambalado ah, Ama ka lalok baliak, bisuak ama sakola pagi”. Ucapnya sambil masuk ke kamar. Sambalado, cabe merah kriting yang dikukus diatas nasi lalu digiling pake Batu Lado ditambah ikan asin yang digoreng kering. Ini salah satu hal yang membuatku kangen rumah. Selesai makan kulihat Vina dan Icha, dua orang adik perempuanku, dikamarnya sedang tidur dengan gaya bebas. Mereka berdua sangat bebas berekspresi kalau sedang tidur, sangat ekspresif. Lalu aku beranjak kelantai 2, ke kamar, langsug tidur, dan pingang serta pantat ku akhirnya mendapatkan tempat yang nyaman.
Jam 11.00, aku bangun, mandi, pake baju yang rapi, ambil handphone, sms, “aku brgkt”. Dan aku langsung berangkat dan sampai. Di depan gerbang rumah terlihat seorang gadis dengan rok panjang terurai dihiasi warna-warni pulkadot kecil-kecil dan motif bunga, atasannya dipadu-padankan dengan kerudung warna senada dengan baju bergarisnya. Dia adalah Mitra Fany Mahesa, pacarku. Mungkin sudah lebih 7 bulan aku tidak bertemu. “Assalamualaikum” ucapku sambil masuk kerumahnya. “Walaikumsalam, masuak lah sayang”. Jawabnya dan langsung kupotong “ Manih bana galak, dek pakai behel baru mah yo, hahahah”. Tapi matanya sedikit berair, mungkin luapan rindu lama tak bertemu sudah tak kuasa dibendungnya. Tubuh kurusku langsung dipeluk erat, “Fany taragak bana samo put”, ucapnya sambil terisak. Beberapa jam ngobrol kesana kemari, kami jalan-jalan keluar sambil cari makan. Langsung berangkat pake motor jadul punya ku.
Gggrrrr, ggrrrr, getar handphone diatas meja menghentikan obrolan kami. “Ani capek pulang, sabanta lai travel tibo”. Itu sms dari Mama nya Fany. Kami langsung pulang. Di depan rumah sudah menunggu sebuah mobil travel berwarna merah maroon. Fany bergegas mengambil barang-barangnya, izin ke Mamanya, mencium tanganku, dan masuk ke dalam travel. Ya, dia belum libur kuliah, jadi harus balik ke Padang. Mobil travelpun hilang dari pandangan mataku. “Bilo pulang yan” tanya Mama Fany pada ku. “ tadi malam tibo ma”, jawabku sambil diikuti obrolan ringan didepan rumah Fany. Beberapa saat, aku ijin pulang.
Baru satu hari bertemu udah pisah lagi, ucapku dalam hati. Tapi kali ini hanya di Padang, hanya 2 jam dari rumah. Oke, besok aku ke Padang.
Selasa, 17 Agustus 2010
pertanyaan bodoh
Saya memang sering menghubungkan apa yang terjadi sekarang dengan masa lalu saya. Menurut para motivator, saya adalah orang yag selalu dibayang-bayangi masa lalu, orang seperti saya tidak akan sukses. Tapi ini lah saya, mungkin masa lalu yang membuat saya seperti ini. Dahulu memang indah, masa itu, cerita itu, dan ini itu. Hanya masa lalu.
Ngomong-ngomong, semakin hari semakin banyak teman-teman saya yang membahas Buka Bersama. Ya, ini Ramadhan, wajar saja. Di beberapa situs jejaring sosial pun banyak saya temui tulisan mengenai ajakan seperti ini. Memang ini telah menjadi tradisi. Namun pertanyaan saya, kenapa hanya ada Buka Bersama di bulan Ramadhan? Kenapa pada hari biasa kita tidak Buka Bersama?. Pertanyaan bodoh, apalagi ada yang berfikir apa jawaban dari pertayaan ini, jawaban nya pun bodoh.
Tapi bukan itu maksud saya. Buka bersama pada hari biasa ya Buka Bersama. Bukan berarti berbuka untuk membatalkan puasa. Pergi ke sebuah tempat makan secara bersama-sama, ngobrol sana sini, yang ngobrol ya ngobrol, yang diam ya diam, tidak mau membuka diri, tetap pada area nyaman masing-masing. Bahkan ada yang tidak datang karena temannya juga tidak datang. Atau tidak datang karena teman atau ‘mantan temannya’ datang, padahal dahulu mereka adalah sahabat, bahkan lebih dari itu. Atau bisa juga karena jumlah perbedaan jenis kelamin yang datang. Sungguh saya tidak bermaksud menyingung siapa pun, karena saya juga pernah seperti ini. Kalau memang ada yang tersiggung, bilang saja. Saya akan minta maaf.
Maksud saya sebenarnya adalah kita berkumpul saling membuka diri karena kita adalah bagian dari masa lalu yang indah. Mencoba lepas dari kesibukan dan ego masing-masing. Memecahkan segelintir masalah yang muncul karena ucapan yang pedas, ego, atau masalah cinta dan perasaan yang membuat kita selama ini saling memalingkan muka dan tidak pernah bertegur sapa. Jika semua itu terlaksanakan, masa lalu itu, yang indah itu, mungkin hadir lagi.
Maaf atas ketidakpedulian dan kebenaran tulisan saya ini. Saya hanya tidak bisa tidur malam ini,
Ngomong-ngomong, semakin hari semakin banyak teman-teman saya yang membahas Buka Bersama. Ya, ini Ramadhan, wajar saja. Di beberapa situs jejaring sosial pun banyak saya temui tulisan mengenai ajakan seperti ini. Memang ini telah menjadi tradisi. Namun pertanyaan saya, kenapa hanya ada Buka Bersama di bulan Ramadhan? Kenapa pada hari biasa kita tidak Buka Bersama?. Pertanyaan bodoh, apalagi ada yang berfikir apa jawaban dari pertayaan ini, jawaban nya pun bodoh.
Tapi bukan itu maksud saya. Buka bersama pada hari biasa ya Buka Bersama. Bukan berarti berbuka untuk membatalkan puasa. Pergi ke sebuah tempat makan secara bersama-sama, ngobrol sana sini, yang ngobrol ya ngobrol, yang diam ya diam, tidak mau membuka diri, tetap pada area nyaman masing-masing. Bahkan ada yang tidak datang karena temannya juga tidak datang. Atau tidak datang karena teman atau ‘mantan temannya’ datang, padahal dahulu mereka adalah sahabat, bahkan lebih dari itu. Atau bisa juga karena jumlah perbedaan jenis kelamin yang datang. Sungguh saya tidak bermaksud menyingung siapa pun, karena saya juga pernah seperti ini. Kalau memang ada yang tersiggung, bilang saja. Saya akan minta maaf.
Maksud saya sebenarnya adalah kita berkumpul saling membuka diri karena kita adalah bagian dari masa lalu yang indah. Mencoba lepas dari kesibukan dan ego masing-masing. Memecahkan segelintir masalah yang muncul karena ucapan yang pedas, ego, atau masalah cinta dan perasaan yang membuat kita selama ini saling memalingkan muka dan tidak pernah bertegur sapa. Jika semua itu terlaksanakan, masa lalu itu, yang indah itu, mungkin hadir lagi.
Maaf atas ketidakpedulian dan kebenaran tulisan saya ini. Saya hanya tidak bisa tidur malam ini,
Selasa, 13 April 2010
SMA
Kalau aja tadi sore ga ada hujan badai di Jatinangor, kalau aja tadi sore antena tv gw ga patah gara-gara ditiup angin, mungkin gw ga akan kembali ke masa-masa indah waktu gw SMA. Kalau saja semua itu ga terjadi, pasti gw masih dengan santainya nonton tv di kamar kost gw. Mungkin ini sisi positif dari patahnya antena tv gw, tapi sebenarnya lebih banyak dampak negatifnya.
Gw nyalain komputer warisan kesayangan gw. Awalnya, iseng gw buka folder “High School Never Ends”. Jujur ini iseng doank, ini dikarenakan udah malam dan ga mungkin gw nyetel musik semalam ini. Pernah beberapa kali gw coba, dan hp gw dibanjiri sms yang isi nya “yan, udah malam, kecilin donk musiknya, gw mw tidur”. Dan itu udah diubah menjadi kalimat bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai EYD. Kalau ditulis aslinya, jangan deh, nati orangnya baca.
“High School Never Ends”,double klik, dan munculah beberapa folder berisi foto dan video. Ada folder Study Tour, Jalan2, Mau2, XII IS 2, XII IS 1, dan Perpisahan Bushido 08. Maav, gw ga punya folder dengan nama XII IA xx, dan itu bukan salah gw. Salahin aja si Kacang, “tukang dokumentasi spesialis hp” yang Cuma ngejepret anak2 IPS, hahahaha.
Cursor mouse gw bergerak menuju sebuah folder, double klik, dan kalau dihitung ada ratusan foto dalam folder ini plus videonya. Ya, folder “Perpisahan Bushido 08”. Gw buka satu per satu video yang berformat 3GP ini, maklum jaman gw SMA hp merupakan salah satu alat yang bisa dipake buat mengabadikan suatu moment.
Yang paling berkesan adalah sebuah video yang di dalamnya berisi jejeran lelaki dan wanita paruh baya yag sedang meneteskan air mata sambil memberi restu pada calon-calon penerus bangsa untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Ratusan pasang mata yang mengucurkan cairan bahagia dari mata mereka yang diiringi lagu Hymne Guru. Para pemimpi ini tak henti-hentinya mencuim tangan-tangan kurus sang pahlawan tanpa tanda jasa yang sudah termakan usia. Tangan-tangan yang sudah mulai keriput dan dihiasi satu-dua cincin 24 karat. Ini lah tangan-tangan yang setiap hari melecut semangat kami, Bushido 08, para pemimnpi dari Bukittinggi, untuk mulai meniti mimpi.
Dan gw adalah salah satu dari pemimpi tersebut. Gw masih ingat ketika seorang guru paruh baya dengan kerudung hijau yang sepadan dengan baju dinasnya, menghapus tetes-tetes air mata di pipi gw dengan cinta dan kasih sayangnya. Semakin deras air mata yang keluar dan semakin erat pelukan gw, dalam hati gw berbisik ”Terima kasih Ibu”.
Sekarang para pemimpi ini sedang menggapai mimpi-mimpi mereka di berbagai tempat. Singapore, Malaysia, Jakarta, Bandung, Jogja, Medan, Pekanbaru, Padang, dan ada yang masih tetap di Bukittinggi. Tempat bukanlah halangan dalam menggapai mimpi, asalkan tekun dan mau berkerja keras, semua mimpi pasti akan menjadi kenyataan.
Mey 2010, hampir dua tahun gw lulus, tapi rasanya belum ada satupun hal yang berarti yang udah gw berikan buat SMA gw, SMA N 1 Bukittinggi. Tapi walaupun begitu, dalam hati gw akan selalu terukir nama mu, tempat menuntut ilmu dan menemukan pengalaman baru, SMA Negeri 1 Bukittinggi
23.29 WIB
Minggu, 11 April 2010
Jatinangor
Gw nyalain komputer warisan kesayangan gw. Awalnya, iseng gw buka folder “High School Never Ends”. Jujur ini iseng doank, ini dikarenakan udah malam dan ga mungkin gw nyetel musik semalam ini. Pernah beberapa kali gw coba, dan hp gw dibanjiri sms yang isi nya “yan, udah malam, kecilin donk musiknya, gw mw tidur”. Dan itu udah diubah menjadi kalimat bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai EYD. Kalau ditulis aslinya, jangan deh, nati orangnya baca.
“High School Never Ends”,double klik, dan munculah beberapa folder berisi foto dan video. Ada folder Study Tour, Jalan2, Mau2, XII IS 2, XII IS 1, dan Perpisahan Bushido 08. Maav, gw ga punya folder dengan nama XII IA xx, dan itu bukan salah gw. Salahin aja si Kacang, “tukang dokumentasi spesialis hp” yang Cuma ngejepret anak2 IPS, hahahaha.
Cursor mouse gw bergerak menuju sebuah folder, double klik, dan kalau dihitung ada ratusan foto dalam folder ini plus videonya. Ya, folder “Perpisahan Bushido 08”. Gw buka satu per satu video yang berformat 3GP ini, maklum jaman gw SMA hp merupakan salah satu alat yang bisa dipake buat mengabadikan suatu moment.
Yang paling berkesan adalah sebuah video yang di dalamnya berisi jejeran lelaki dan wanita paruh baya yag sedang meneteskan air mata sambil memberi restu pada calon-calon penerus bangsa untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Ratusan pasang mata yang mengucurkan cairan bahagia dari mata mereka yang diiringi lagu Hymne Guru. Para pemimpi ini tak henti-hentinya mencuim tangan-tangan kurus sang pahlawan tanpa tanda jasa yang sudah termakan usia. Tangan-tangan yang sudah mulai keriput dan dihiasi satu-dua cincin 24 karat. Ini lah tangan-tangan yang setiap hari melecut semangat kami, Bushido 08, para pemimnpi dari Bukittinggi, untuk mulai meniti mimpi.
Dan gw adalah salah satu dari pemimpi tersebut. Gw masih ingat ketika seorang guru paruh baya dengan kerudung hijau yang sepadan dengan baju dinasnya, menghapus tetes-tetes air mata di pipi gw dengan cinta dan kasih sayangnya. Semakin deras air mata yang keluar dan semakin erat pelukan gw, dalam hati gw berbisik ”Terima kasih Ibu”.
Sekarang para pemimpi ini sedang menggapai mimpi-mimpi mereka di berbagai tempat. Singapore, Malaysia, Jakarta, Bandung, Jogja, Medan, Pekanbaru, Padang, dan ada yang masih tetap di Bukittinggi. Tempat bukanlah halangan dalam menggapai mimpi, asalkan tekun dan mau berkerja keras, semua mimpi pasti akan menjadi kenyataan.
Mey 2010, hampir dua tahun gw lulus, tapi rasanya belum ada satupun hal yang berarti yang udah gw berikan buat SMA gw, SMA N 1 Bukittinggi. Tapi walaupun begitu, dalam hati gw akan selalu terukir nama mu, tempat menuntut ilmu dan menemukan pengalaman baru, SMA Negeri 1 Bukittinggi
23.29 WIB
Minggu, 11 April 2010
Jatinangor
Jumat, 26 Maret 2010
Ericsson R320s, Handphone Tercanggih Tahun Ini

Apa yang anda pikirkan setelah melihat handphone ini?? Tipis dan jadul?? Atau malah kepikiran batu bata, walky talky, atau serutan es krim yang sering kita beli jaman SD dulu??. Setau saya, ini adalah hp jadul paling tipis di Jatinangor.
Bagi orang-orang seperti saya yang hobi sm barang2 jadul, hp ini memberikan kebanggaan tersendiri. Saya ketularan koleksi hp jadul dari kakak saya. Waktu itu, kakak saya make hp Nokia ntah tipe berapa yang gede dan ada antenanya. Sebenarnya Ericsson R320s ini adalah hp jadul ketiga saya. Yang pertama adalah Ericsson T10 berwarna ungu. Hp ini batrai nya rusak dan susah bgt nyari batrai originalnya. Sempat saya pakai batrai yg bukan original, tapi ga tahan lama. Ya udah hp ini saya pajang aja di rumah. Kemudian saya ditawari Nokia entah tipe berapa, lumayan gede dan ada antenanya juga, warna nya hitam. Ga nyampe setahun, LCD dan batrai nya bermasalah. Jadi ga ada tulisan yang muncul di layarnya, ditambah lagi hp ini ga ada getarannya karena batrai nya udah ga bagus. Dan lagi-lagi menjadi pajangan. Nah, yang masih awet sampai sekarang ya si Ericsson R320s ini.
Dari informasi yang saya dpt, hp ini keluaran tahun 1988. Untuk tahun 88, tentu hp ini tergolong sangat mewah. Harga nya aja waktu itu sekitar 1,2 juta. Bayangin aja uang segitu tahun 88, mungkin setara sm harga Blueberi sekarang. Fitur yang ada pun lumayan lengkap. Yg jelas hp ini bisa dipake buat nelpon dan sms. Signal sgt bagus walaupun ditengah hutan, diatas gunung, bahkan di Jatinangor. Kelebihan hp ini terletak pada games dan WAP Service-nya. Games ada dua, tetris dan solitare yang ky di komputer, Waaaw, hebat sekali. Nah, WAP Service ini yang ga saya ngerti sampai sekarang. Namun ada satu kekurangan dari hp ini. Kalau antenanya hilang, otomatis ga akan bisa di pake buat nelpon dan sms
Walaupun hp saya sering menjadi bahan ketawaan di kampus, tapi lumayan lah biar ga garing2 amat. Ada yang bikin ketawa klo lagi ga ada yg lucu. Ehhh, 20 tahun lagi hp saya ini jadi barang antik ga ya?? Trus harganya jadi mahal?? Trus saya dicari-cari kolektor barang2 antik, trus hp saya ditawar 1 triliun, saya jadi kaya deh, hahaha.
Sabtu, 20 Maret 2010
Sejarah Perkembangan Radio
Henry Fayol (1841-1925)
Henry Fayol sebagai seorang tokoh manajemen berpendapat bahwa ada prinsip-prinsip manajemen tertentu yang dapat diajarkan dan dipelajari. Henry Fayol lebih menjuruskan perhatiannya kepada pimpinan tingkat atas. Pada tahun 1908, Henry Fayol mengeluarkan sebuah buku yang berjudul Administration Industrielle et General. Dalam bukunyua tersebut Henry Fayol menegemukakan prinsip-prinsip manajemen, yaitu:
1. Division Of Work (Pembagian Kerja)
Pembagian kerja harus memperhatikan kualitas fisik, moral, mental, pendidikan, dan pengalaman. Pembagian kerja yang disesuaikan dengan kemampuan dan keahlian bertanggung jawab, sehingga pelaksanaan kerja berjalan dengan efektif. Oleh karena itu, dalam penempatan karyawan harus menggunakan prinsip the right man in the right place. Pembagian kerja harus rasional/objektif, bukan emosional subyektif yang didasarkan atas dasar like and dislike.
Tujuan dari pembagian kerja adalah menghasilkan pekerjaan yang lebih banyak dan lebih baik dengan usaha yang sama. Pembagian kerja memungkinkan pengurangan sasaran, terhadap mana perhatian harus diarahkan dan dikenal sebagai alat terbaik memnfaatkan individu-individu dan kelompok orang.
2. Authority and Responsibility (Wewenang dan Tanggung Jawab)
Authority (wewenang) adalah hak untuk memberi instruksi dan kekuasaan meminta kepatuhan. Authority bersumber dari intelegensia, pengalaman, nilai moral, kesanggupan memimpin, dan pelayanan masa lalu. Sedangkan responsibility (tanggung jawab) tugas dan fungsi-fungsi yang harus dilakukan oleh seseorang, dan agar dapat dilaksanakan responsibility harus diberikan.
Wewenang yang tidak disertai dengna tanggung jawab adalah buta, dan tanggung jawab yang tidak dilengkapi wewenang adalah celaka. Antara wewenang dan tanggung jawab harus seimbang, makin besar wewenang , makin besar tanggung jawabnya.
Tanggung jawab terbesar terletak pada manajer puncak. Kegagalan suatu usaha bukan terletak pada karyawan, tetapi terletak pada puncak pimpinannya karena yang mempunyai wewemang terbesar adalah manajer puncak. oleh karena itu, apabila manajer puncak tidak mempunyai keahlian dan kepemimpinan, maka wewenang yang ada padanya merupakan bumerang.
Keahlian dan kepemimpinan merupakan dasar dari pada wewenang dan tanggung jawab. Oleh karena itu, seorang manajer yang mempunyai keahlian dan kepemimipinan akan mampu memberikan pertanggungjawaban sesuai dengan wewenang yang ada padanya.
3. Dicipline (Disiplin)
Disiplin yakni melakukan apa yang sudah disetujui bersama antara pemimpin dengan karyawannya, baik secara tertulis, lisan, atau berupa kebiasaan-kebiasaan. Disiplin sangat penting karena suatu usaha tidak akan mengalami kemajuan tanpa adanya disiplin pada pihak atasan dan bawahan.
Disiplin ini sangat erta hubungan dengan wewenang. Apabila wewenang tidak berjalan dengan semestinya, maka disiplin akan hilang. Pelaksanaan wewenang yang dipaksakan tidak akan menimbulkan disiplin hidup melainkan disiplin mati. Hal ini akan membawa suasana kerja diliputi ketakutan sehingga pekerja tidak bekerja dengan kesadaran dan tanggung jawab sepenuhnya.
Oleh karena itu, pemegang wewenang harus dapat menanamkan rasa disiplin terhadap dirinya sendiri sehingga mempunyai tanggung jawab terhadap pekerajaan sesuai dengan wewenang yang ada padanya.
4. Unity of Command (Kesatuan Perintah)
Untuk setiap tindakan, seorang pegawai harus menerima instruksi dari seorang atasan saja. Bila hal ini dilanggar, wewenang berati dikurangi, disiplin terancam, keteraturan terganggu, dan stabilitas mengalami cobaan. Seseorang tidak mungkin melaksanaa instruksi yang sifatnya dualistis.
Dalam melakasanakan pekerjaan, karyawan harus memperhatikan prinsip kesatuan perintah sehingga pelaksanaan kerja dapat dijalankan dengan baik. Karyawan harus tahu kepada siapa ia harus bertanggung jawab sesui dengan wewenang yang diperolehnya. Perintah yang datang dari manajer lain kepada serorang karyawan akan merusak jalannya wewenang dan tanggung jawab serta pembagian kerja
Kesatuan arah dapat menjamin tertibnya lalu lintas wewenangdan tanggung jawab dalam pelaksanaan kerja, se3hin gga kegiatan kerja terarah pada sasarannya dan menjamin tercapai tujuan usaha. Tidak mungkin terdapat hak untuk memerintah orang lain mengerjakan sesuatu tanpa adanya wewenang.
Oleh karena itu, kesatuan perinta merupakan landasan untuk meminta pertanggungjawaban bawahan sesuai dengan wewenang yang ada padanya. Dengan kata lain Unity of Comand merupakan pelaksanaan untuk terjaminnya authority dan responsibility.
5. Unity of direction (Kesatua Arah)
Prinsip ini dapat dijabarkan memjadi kesatuan tindakan, koordinasi, kekuatan, dan memfokuskan usaha (satu arah, satu tujuan, satu pimpinan). Dalam melaksanakan tugas-tugas dan tanggung jawabnya, karyawan perlu diarahkan menuju sasarannya. Oleh karena itu perlu adanya bimbingan terhadap seluruh pegawai supaya mereka menyadario sepenuhnya akan tugas dan kewajibannya.
Kesatuan pengarahan bertalian erat dengan pembagian kerja. Suatu pembagian kerja yang tidak sesuai dengan kebutuhan akan menyebabkan pelaksanaa kerja tidak terarah pada sasaranya.
Kesatuan pengarahan tergantung pula terhadap kesatuan perintah. Dalam pelaksanaan kerja bisa saja terjadi adanya dua perintah sehingga menimbulkan arah yang berlawanan. Oleh karena itu, perlu alur yang jelas dari mana karyawan mendapat wewenang untuk pmelaksanakan pekerjaan dan kepada siapa ia harus mengetahui batas wewenang dan tanggung jawabnya agar tidak terjadi kesalahan. Pelaksanaan kesatuan pengarahan (unity of directiion) tidak dapat terlepas dari pembaguan kerja, wewenang dan tanggung jawab, disiplin, serta kesatuan perintah.
6. Subordination of Individual Interest to General Interest ( Kepentingan umum lebih dipentingkan dari kepentingan pribadi)
Dalam sebuah perusahaan kepentingan pribadi tidak boleh diatas kepentingan perusahaan. Hal ini merupakan syarat yang sangat penting agar setiap usaha berjalan dengan lancar sehingga dapat tercapai tujuannya. Berhasilnya suatu usaha akan menyangkut kepentingan-kepentingan seluruh pegawai khususnya, dan kepentingan masyarakat pada umumnya.
Setiap karyawan dapat mengabdikan kepentingan pribadi kepada kepentingan organisasi apabila memiliki kesadaran bahwa kepentingan pribadi sebenarnya tergantung kepada berhasil-tidaknya kepentingan organisasi. Prinsip pengabdian kepentingan pribadi kepada kepentingan organisasi dapat terwujud, apabila setiap karyawan merasa senang dalam bekerja sehingga memiliki disiplin yang tinggi.
7. Remuneration of Personnel (Keadilan dalam pembagian upah)
Gaji pegawai adalah harga dari layanan yang diberikannya. Harus adil, sejauh mungkin memberi kepuasan baik pada pegawai maupun perusahaan. Manusia memiliki kebutuhan spiritual dan material yang harus dipenuhi. Tingkat gaji dipengaruhi oleh biaya hidup, permintaan dan penawaran tenaga kerja, keadaan umum perusahaan, posisi ekonomi perusahaan, dan tergantung pula dari pendidikan dan pengalaman pegawai.
upah bagi karyawan merupakan kompensasi yang menentukan terwujudnya kelancaran dalam bekerja. Karyawan yang diliputi perasaan cemas dan kekurangan akan sulit berkonsentrasi terhadap tugas dan kewajibannya sehingga dapat mengakibatkan ketidaksempurnaan dalam bekerja. Penggajian yang tidak cukup akan menimbulkan indisipliner para pegawai, sehingga sulit diarahkan pada tujuan yang hendak dicapai.
Oleh karena itu, dalam prinsip penggajian haris dipikirkan bagaimana agar karyawan dapat bekerja dengan tenang. Sistem penggajian harus diperhitungkan agar menimbuulkan kedisiplinan dan kegairahan kerja sehingga karyawan berkompetisi untuk membuat prestasi yang lebih besar. Prinsip more pay for more prestige (upaya lebih untuk prestasi lebih), dan prinsip upah sama untuk prestasi yang sama perlu diterapkan sebab apabila ada perbedaan akan menimbulkan kelesuan dalam bekerja dan mungkin akan menimbulkan tindakan tidak disiplin.
8. Centralization (Pemusatan)
Masalah sentralisasi dan desentralisasi adalah masalah pembagian kekuasaan. Pada organisasi kecil, sentralisasi dapat diterapkan. Akan tetapi pada organisasi yang besar harus diterapkan desentralisasi.
Pemusatan wewenang akan menimbulkan pemusatan tanggung jawab dalam suatu kegiatan. Tanggung jawab terakhir terletak ada orang yang memegang wewenang tertinggi atau manajer puncak. Pemusatan bukan berarti adanya kekuasaan untuk menggunakan wewenang, melainkan untuk menghindari kesimpangsiurang wewenang dan tanggung jawab. Karena kesimpangsiuran dalam lalu lintas wewenang akan berakibat pada pelaksanaan pekerjaan sehingga tujuan yang hendak dicapai mengalami kegagalan. Pemusatan wewenang ini juga tidak menghilangkan asas pelimpahan wewenang (delegation of authority)
9. Scalar Chain (Rantai skalar, jenjang bertangga)
Rantai skalar adalah rantai daripada atasan yang bermula dari wewenang terakhir hingga pada tingkat terendah. Garis kekuasaan adalah rute yang harus diikuti oleh semua komunikasi yang bermula dan kembalinke kekuasaan terakhir. Prinsip rantai skalar berarti bahwa untuk mempermudah komunikasi antara pegawai yang setingkat ada manfaatnya kalau mereka langsung mengadakan komunikasi dengan mengabaikan garis kekuasaan.
Pembagian kerja menimbulkan adanya atasan dan bawahan. Bila pembagian kerja ini mencakup area yang cukup luas akan menimbulkan hirarki. Hirarki diukur dari wewenang terbesar yang berada pada manajer puncak dan seterusnya berurutan ke bawah. dengan adanya hirarki ini, maka setiap karyawan akan mengetahui kepada siapa ia harus bertanggung jawab dan dari siapa ia mendapat perintah.
Dalam pelaksanaan lalu lintas wewenang dan tanggung jawab, supaya tidak terjadi kekacauan, maka tidak boleh adanya hirarki karena hal ini akan menimbulkan ketidaksenangan dalam bekerja bagi orang yang dilaluinya. Karena tidak merasa dihargai oleh bawahannya dan merasa tidak dipercaya oleh atasannya. Namun, adanya hirarki justru mempercepat jalannya pekerjaan mengingat adanya derlegation of authority.
10. Order (Ketertiban)
Adanya ketertiban dalam sebuah perusahaan harus ditempatkan dengan tegas untuk setiap pegawai. Setiap pegawai akan disiplin apabila sadar sepenuhnya akan tugas dan tanggung jawabnya. Kesadaran bertanggung jawab dipengaruhi oleh kebutuhab hidup. Apabila kebutuhan tersebut telah terpenuhi, maka akan ada pengusahaan disiplin terhadap dirinya. Tapi dalam kenyataan perlu ditertibkan dahulu baru ada kedisiplinan, walaupun itu didorong oleh rasa takut.
Ketertiban ini menurut segala bidang, yaitu adanya keterlibatan dalam penggunaan wewenang dan pemberian tanggung jawab.
Ketertiban dalam melaksanakan pekerjaan merupakan syarat utama karena pada dasarnya tidak ada orang yang bisa bekerja dalam keadaan kacau atau tegang. Ketertiban dalam suatu pekerjaan dapat terwujud apabila seluruh karyawan, baik atasan maupun bawahan mempunyai disiplin yang tinggi. Oleh karena itu, ketertiban dan disiplin sangat dibutuhkan dalam mencapai tujuan.
11. Equity (Keadilan)
Untuk merangsang pegawai melaksanakan tugasnya, mereka harus diperlakukan dengan ramah dan adil. Kombinasi keramahtamahan dan keadilan akan menghasilkan equity. Semua karyawan harus dianggap sama pentingnya dan sama baiknya. Apbila terjadi perselisaihan, tidak boleh memihak, melainkan harus diselesaikan dengan musyawarah dengan asas kekeluargaan.
Keadilan dan kejujuran merupakan salah satu syarat untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Keadilan dan kejujuran terkait dengan moral karyawan dan tidak dapat dipisahkan. Keadilan dan kejujuran harus ditegakkan mulai dari atasan karena atasan memiliki wewenang yang paling besar. Manajer yang adil dan jujur akan menggunakan wewenangnya dengan sebaik-baiknya untuk melakukan keadilan dan kejujuran pada bawahannya.
Apabila dalam suatu usaha tidak ada keadilan, maka usaha itu akan mengalami kemacetan, bahkan kegagalan. Penggunaan nya pun harus untu kepentingan bersama. Apabila digunakan untuk kepentingan pribadi, maka ini merupakan titik tolak mrnuju kehancuran.
12. Stability of Tonure of Personnel ( Stabilitas pegawai)
Dalam setiap kegiatan kestabilan karyawan harus dijaga sebaik-baiknya agar segala pekerjaan berjalan dengan lancar. Kestabilan karyawan terwujud karena adanya disiplin kerja yang baik dan adanya ketertiban dalam kegiatan. Manusia sebagai makhluk sosial yang berbudaya memiliki keinginan, perasaan dan pikiran. Apabila keinginannya tidak terpenuhi, perasaan tertekan dan pikiran yang kacau akan menimbulkan goncangan dalam bekerja.
Kestabilan karyawan tidak dapat dipaksakan dengan kekuasaan dan ketakutan. Kalaupun berhasil, hanyalah bersifat sementara. Kestabilan hanya dapat terwujud karena adanya disiplin kerja yang baik dan adanya ketertiban dalam usaha itu.
Oleh karena itu, apabila kehendak tidak terpenuhi, perasaan tertekan, dan pikiran yang tidak ada penyaluran, maka akan menimbulkan frustasi yang sewaktu-waktu bisa meledak sehingga menggangu kelancaran usaha. Untuk itu diperlukan keadilan dan kejujuran untuk mendapatkan kestabilan karyawan.
13. Initiative (Inisiatif)
Kesanggupan berfikir dan kemampuan melaksanakan adalah apa yang disebut inisiatif. Sumber kekuatan suatu perusahaan adalah adanya inisiatif baik dari kalanganatasan maupun bawahan khususnya pada masa sulit, karena penting untuk menggairahkan dan mengembangkan inisistif semaksimal mungkin.
Prakarsa timbul dari dalam diri seseorang yang menggunakan daya pikir. Prakarsa menimbulkan kehendak untuk mewujudkan suatu yang berguna bagi penyelesaian pekerjaan dengan sebaik-beiknya. Jadi dalam prakarsa terhimpun kehendak, perasaan, pikiran, keahlian dan pengalaman seseorang. Oleh karena itu, setiap prakarsa yang datang dari karyawan harus dihargai. Prakarsa (inisiatif) mengandung arti menghargai orang lain, karena itu hakikatnya manusia butuh penghargaan. Setiap penolakan terhadap prakarsa karyawan merupakan salah satu langkah untuk menolak gairah kerja. Oleh karena itu, seorang manajer yang bijak akan menerima dengan senang hari prakarsa-prakarsa yang dilahirkan karyawannya.
Yang terpenting, inisiatif berkembang bila dalam usaha terdapat keadilan dan kejujuran. Dalam pengembangan inisiatif perlu diperhatikan penbagian kerja dan pengaturan wewenang dan tanggung jawab agar pegawai yang ahli dan berpengalaman memiliki wewenang yang luas.
14. Ecsprit de Corps ( Semangat kesatuan korps)
Keharmonisan di kalangan personalia perusahaan merupakan kekuatan besar bagi suatu perusahaan. Untuk itu, segala usaha ditempuh untuk merealisasikannya. Setiap karyawan harus memiliki rasa kesatuan, yaitu rasa senasib sepenanggungan sehingga menimbulkan semangat kerja sama yang baik. semangat kesatuan akan lahir apabila setiap karyawan mempunyai kesadaran bahwa setiap karyawan berarti bagi karyawan lain dan karyawan lain sangat dibutuhkan oleh dirinya.
Selain itu semangat kesatuan korps terlahir pula karena adanya disiplin pegawain akan tugas dan kewajibannya. Sehingga masing2 pegawai dapat menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
Manajer yang memiliki kepemimpinan akan mampu melahirkan semangat kesatuan (esprit de corp), sedangkan manajer yang suka memaksa dengan cara-cara yang kasar akan melahirkan friction de corp (perpecahan dalam korp) dan membawa bencana. Untuk melihat suatu usaha baik atau tidaknya dapat dilihat pula dari adam atau tidaknya semangat kesatuan korps dalam perusahaan tersebut.
Henry Fayol sebagai seorang tokoh manajemen berpendapat bahwa ada prinsip-prinsip manajemen tertentu yang dapat diajarkan dan dipelajari. Henry Fayol lebih menjuruskan perhatiannya kepada pimpinan tingkat atas. Pada tahun 1908, Henry Fayol mengeluarkan sebuah buku yang berjudul Administration Industrielle et General. Dalam bukunyua tersebut Henry Fayol menegemukakan prinsip-prinsip manajemen, yaitu:
1. Division Of Work (Pembagian Kerja)
Pembagian kerja harus memperhatikan kualitas fisik, moral, mental, pendidikan, dan pengalaman. Pembagian kerja yang disesuaikan dengan kemampuan dan keahlian bertanggung jawab, sehingga pelaksanaan kerja berjalan dengan efektif. Oleh karena itu, dalam penempatan karyawan harus menggunakan prinsip the right man in the right place. Pembagian kerja harus rasional/objektif, bukan emosional subyektif yang didasarkan atas dasar like and dislike.
Tujuan dari pembagian kerja adalah menghasilkan pekerjaan yang lebih banyak dan lebih baik dengan usaha yang sama. Pembagian kerja memungkinkan pengurangan sasaran, terhadap mana perhatian harus diarahkan dan dikenal sebagai alat terbaik memnfaatkan individu-individu dan kelompok orang.
2. Authority and Responsibility (Wewenang dan Tanggung Jawab)
Authority (wewenang) adalah hak untuk memberi instruksi dan kekuasaan meminta kepatuhan. Authority bersumber dari intelegensia, pengalaman, nilai moral, kesanggupan memimpin, dan pelayanan masa lalu. Sedangkan responsibility (tanggung jawab) tugas dan fungsi-fungsi yang harus dilakukan oleh seseorang, dan agar dapat dilaksanakan responsibility harus diberikan.
Wewenang yang tidak disertai dengna tanggung jawab adalah buta, dan tanggung jawab yang tidak dilengkapi wewenang adalah celaka. Antara wewenang dan tanggung jawab harus seimbang, makin besar wewenang , makin besar tanggung jawabnya.
Tanggung jawab terbesar terletak pada manajer puncak. Kegagalan suatu usaha bukan terletak pada karyawan, tetapi terletak pada puncak pimpinannya karena yang mempunyai wewemang terbesar adalah manajer puncak. oleh karena itu, apabila manajer puncak tidak mempunyai keahlian dan kepemimpinan, maka wewenang yang ada padanya merupakan bumerang.
Keahlian dan kepemimpinan merupakan dasar dari pada wewenang dan tanggung jawab. Oleh karena itu, seorang manajer yang mempunyai keahlian dan kepemimipinan akan mampu memberikan pertanggungjawaban sesuai dengan wewenang yang ada padanya.
3. Dicipline (Disiplin)
Disiplin yakni melakukan apa yang sudah disetujui bersama antara pemimpin dengan karyawannya, baik secara tertulis, lisan, atau berupa kebiasaan-kebiasaan. Disiplin sangat penting karena suatu usaha tidak akan mengalami kemajuan tanpa adanya disiplin pada pihak atasan dan bawahan.
Disiplin ini sangat erta hubungan dengan wewenang. Apabila wewenang tidak berjalan dengan semestinya, maka disiplin akan hilang. Pelaksanaan wewenang yang dipaksakan tidak akan menimbulkan disiplin hidup melainkan disiplin mati. Hal ini akan membawa suasana kerja diliputi ketakutan sehingga pekerja tidak bekerja dengan kesadaran dan tanggung jawab sepenuhnya.
Oleh karena itu, pemegang wewenang harus dapat menanamkan rasa disiplin terhadap dirinya sendiri sehingga mempunyai tanggung jawab terhadap pekerajaan sesuai dengan wewenang yang ada padanya.
4. Unity of Command (Kesatuan Perintah)
Untuk setiap tindakan, seorang pegawai harus menerima instruksi dari seorang atasan saja. Bila hal ini dilanggar, wewenang berati dikurangi, disiplin terancam, keteraturan terganggu, dan stabilitas mengalami cobaan. Seseorang tidak mungkin melaksanaa instruksi yang sifatnya dualistis.
Dalam melakasanakan pekerjaan, karyawan harus memperhatikan prinsip kesatuan perintah sehingga pelaksanaan kerja dapat dijalankan dengan baik. Karyawan harus tahu kepada siapa ia harus bertanggung jawab sesui dengan wewenang yang diperolehnya. Perintah yang datang dari manajer lain kepada serorang karyawan akan merusak jalannya wewenang dan tanggung jawab serta pembagian kerja
Kesatuan arah dapat menjamin tertibnya lalu lintas wewenangdan tanggung jawab dalam pelaksanaan kerja, se3hin gga kegiatan kerja terarah pada sasarannya dan menjamin tercapai tujuan usaha. Tidak mungkin terdapat hak untuk memerintah orang lain mengerjakan sesuatu tanpa adanya wewenang.
Oleh karena itu, kesatuan perinta merupakan landasan untuk meminta pertanggungjawaban bawahan sesuai dengan wewenang yang ada padanya. Dengan kata lain Unity of Comand merupakan pelaksanaan untuk terjaminnya authority dan responsibility.
5. Unity of direction (Kesatua Arah)
Prinsip ini dapat dijabarkan memjadi kesatuan tindakan, koordinasi, kekuatan, dan memfokuskan usaha (satu arah, satu tujuan, satu pimpinan). Dalam melaksanakan tugas-tugas dan tanggung jawabnya, karyawan perlu diarahkan menuju sasarannya. Oleh karena itu perlu adanya bimbingan terhadap seluruh pegawai supaya mereka menyadario sepenuhnya akan tugas dan kewajibannya.
Kesatuan pengarahan bertalian erat dengan pembagian kerja. Suatu pembagian kerja yang tidak sesuai dengan kebutuhan akan menyebabkan pelaksanaa kerja tidak terarah pada sasaranya.
Kesatuan pengarahan tergantung pula terhadap kesatuan perintah. Dalam pelaksanaan kerja bisa saja terjadi adanya dua perintah sehingga menimbulkan arah yang berlawanan. Oleh karena itu, perlu alur yang jelas dari mana karyawan mendapat wewenang untuk pmelaksanakan pekerjaan dan kepada siapa ia harus mengetahui batas wewenang dan tanggung jawabnya agar tidak terjadi kesalahan. Pelaksanaan kesatuan pengarahan (unity of directiion) tidak dapat terlepas dari pembaguan kerja, wewenang dan tanggung jawab, disiplin, serta kesatuan perintah.
6. Subordination of Individual Interest to General Interest ( Kepentingan umum lebih dipentingkan dari kepentingan pribadi)
Dalam sebuah perusahaan kepentingan pribadi tidak boleh diatas kepentingan perusahaan. Hal ini merupakan syarat yang sangat penting agar setiap usaha berjalan dengan lancar sehingga dapat tercapai tujuannya. Berhasilnya suatu usaha akan menyangkut kepentingan-kepentingan seluruh pegawai khususnya, dan kepentingan masyarakat pada umumnya.
Setiap karyawan dapat mengabdikan kepentingan pribadi kepada kepentingan organisasi apabila memiliki kesadaran bahwa kepentingan pribadi sebenarnya tergantung kepada berhasil-tidaknya kepentingan organisasi. Prinsip pengabdian kepentingan pribadi kepada kepentingan organisasi dapat terwujud, apabila setiap karyawan merasa senang dalam bekerja sehingga memiliki disiplin yang tinggi.
7. Remuneration of Personnel (Keadilan dalam pembagian upah)
Gaji pegawai adalah harga dari layanan yang diberikannya. Harus adil, sejauh mungkin memberi kepuasan baik pada pegawai maupun perusahaan. Manusia memiliki kebutuhan spiritual dan material yang harus dipenuhi. Tingkat gaji dipengaruhi oleh biaya hidup, permintaan dan penawaran tenaga kerja, keadaan umum perusahaan, posisi ekonomi perusahaan, dan tergantung pula dari pendidikan dan pengalaman pegawai.
upah bagi karyawan merupakan kompensasi yang menentukan terwujudnya kelancaran dalam bekerja. Karyawan yang diliputi perasaan cemas dan kekurangan akan sulit berkonsentrasi terhadap tugas dan kewajibannya sehingga dapat mengakibatkan ketidaksempurnaan dalam bekerja. Penggajian yang tidak cukup akan menimbulkan indisipliner para pegawai, sehingga sulit diarahkan pada tujuan yang hendak dicapai.
Oleh karena itu, dalam prinsip penggajian haris dipikirkan bagaimana agar karyawan dapat bekerja dengan tenang. Sistem penggajian harus diperhitungkan agar menimbuulkan kedisiplinan dan kegairahan kerja sehingga karyawan berkompetisi untuk membuat prestasi yang lebih besar. Prinsip more pay for more prestige (upaya lebih untuk prestasi lebih), dan prinsip upah sama untuk prestasi yang sama perlu diterapkan sebab apabila ada perbedaan akan menimbulkan kelesuan dalam bekerja dan mungkin akan menimbulkan tindakan tidak disiplin.
8. Centralization (Pemusatan)
Masalah sentralisasi dan desentralisasi adalah masalah pembagian kekuasaan. Pada organisasi kecil, sentralisasi dapat diterapkan. Akan tetapi pada organisasi yang besar harus diterapkan desentralisasi.
Pemusatan wewenang akan menimbulkan pemusatan tanggung jawab dalam suatu kegiatan. Tanggung jawab terakhir terletak ada orang yang memegang wewenang tertinggi atau manajer puncak. Pemusatan bukan berarti adanya kekuasaan untuk menggunakan wewenang, melainkan untuk menghindari kesimpangsiurang wewenang dan tanggung jawab. Karena kesimpangsiuran dalam lalu lintas wewenang akan berakibat pada pelaksanaan pekerjaan sehingga tujuan yang hendak dicapai mengalami kegagalan. Pemusatan wewenang ini juga tidak menghilangkan asas pelimpahan wewenang (delegation of authority)
9. Scalar Chain (Rantai skalar, jenjang bertangga)
Rantai skalar adalah rantai daripada atasan yang bermula dari wewenang terakhir hingga pada tingkat terendah. Garis kekuasaan adalah rute yang harus diikuti oleh semua komunikasi yang bermula dan kembalinke kekuasaan terakhir. Prinsip rantai skalar berarti bahwa untuk mempermudah komunikasi antara pegawai yang setingkat ada manfaatnya kalau mereka langsung mengadakan komunikasi dengan mengabaikan garis kekuasaan.
Pembagian kerja menimbulkan adanya atasan dan bawahan. Bila pembagian kerja ini mencakup area yang cukup luas akan menimbulkan hirarki. Hirarki diukur dari wewenang terbesar yang berada pada manajer puncak dan seterusnya berurutan ke bawah. dengan adanya hirarki ini, maka setiap karyawan akan mengetahui kepada siapa ia harus bertanggung jawab dan dari siapa ia mendapat perintah.
Dalam pelaksanaan lalu lintas wewenang dan tanggung jawab, supaya tidak terjadi kekacauan, maka tidak boleh adanya hirarki karena hal ini akan menimbulkan ketidaksenangan dalam bekerja bagi orang yang dilaluinya. Karena tidak merasa dihargai oleh bawahannya dan merasa tidak dipercaya oleh atasannya. Namun, adanya hirarki justru mempercepat jalannya pekerjaan mengingat adanya derlegation of authority.
10. Order (Ketertiban)
Adanya ketertiban dalam sebuah perusahaan harus ditempatkan dengan tegas untuk setiap pegawai. Setiap pegawai akan disiplin apabila sadar sepenuhnya akan tugas dan tanggung jawabnya. Kesadaran bertanggung jawab dipengaruhi oleh kebutuhab hidup. Apabila kebutuhan tersebut telah terpenuhi, maka akan ada pengusahaan disiplin terhadap dirinya. Tapi dalam kenyataan perlu ditertibkan dahulu baru ada kedisiplinan, walaupun itu didorong oleh rasa takut.
Ketertiban ini menurut segala bidang, yaitu adanya keterlibatan dalam penggunaan wewenang dan pemberian tanggung jawab.
Ketertiban dalam melaksanakan pekerjaan merupakan syarat utama karena pada dasarnya tidak ada orang yang bisa bekerja dalam keadaan kacau atau tegang. Ketertiban dalam suatu pekerjaan dapat terwujud apabila seluruh karyawan, baik atasan maupun bawahan mempunyai disiplin yang tinggi. Oleh karena itu, ketertiban dan disiplin sangat dibutuhkan dalam mencapai tujuan.
11. Equity (Keadilan)
Untuk merangsang pegawai melaksanakan tugasnya, mereka harus diperlakukan dengan ramah dan adil. Kombinasi keramahtamahan dan keadilan akan menghasilkan equity. Semua karyawan harus dianggap sama pentingnya dan sama baiknya. Apbila terjadi perselisaihan, tidak boleh memihak, melainkan harus diselesaikan dengan musyawarah dengan asas kekeluargaan.
Keadilan dan kejujuran merupakan salah satu syarat untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Keadilan dan kejujuran terkait dengan moral karyawan dan tidak dapat dipisahkan. Keadilan dan kejujuran harus ditegakkan mulai dari atasan karena atasan memiliki wewenang yang paling besar. Manajer yang adil dan jujur akan menggunakan wewenangnya dengan sebaik-baiknya untuk melakukan keadilan dan kejujuran pada bawahannya.
Apabila dalam suatu usaha tidak ada keadilan, maka usaha itu akan mengalami kemacetan, bahkan kegagalan. Penggunaan nya pun harus untu kepentingan bersama. Apabila digunakan untuk kepentingan pribadi, maka ini merupakan titik tolak mrnuju kehancuran.
12. Stability of Tonure of Personnel ( Stabilitas pegawai)
Dalam setiap kegiatan kestabilan karyawan harus dijaga sebaik-baiknya agar segala pekerjaan berjalan dengan lancar. Kestabilan karyawan terwujud karena adanya disiplin kerja yang baik dan adanya ketertiban dalam kegiatan. Manusia sebagai makhluk sosial yang berbudaya memiliki keinginan, perasaan dan pikiran. Apabila keinginannya tidak terpenuhi, perasaan tertekan dan pikiran yang kacau akan menimbulkan goncangan dalam bekerja.
Kestabilan karyawan tidak dapat dipaksakan dengan kekuasaan dan ketakutan. Kalaupun berhasil, hanyalah bersifat sementara. Kestabilan hanya dapat terwujud karena adanya disiplin kerja yang baik dan adanya ketertiban dalam usaha itu.
Oleh karena itu, apabila kehendak tidak terpenuhi, perasaan tertekan, dan pikiran yang tidak ada penyaluran, maka akan menimbulkan frustasi yang sewaktu-waktu bisa meledak sehingga menggangu kelancaran usaha. Untuk itu diperlukan keadilan dan kejujuran untuk mendapatkan kestabilan karyawan.
13. Initiative (Inisiatif)
Kesanggupan berfikir dan kemampuan melaksanakan adalah apa yang disebut inisiatif. Sumber kekuatan suatu perusahaan adalah adanya inisiatif baik dari kalanganatasan maupun bawahan khususnya pada masa sulit, karena penting untuk menggairahkan dan mengembangkan inisistif semaksimal mungkin.
Prakarsa timbul dari dalam diri seseorang yang menggunakan daya pikir. Prakarsa menimbulkan kehendak untuk mewujudkan suatu yang berguna bagi penyelesaian pekerjaan dengan sebaik-beiknya. Jadi dalam prakarsa terhimpun kehendak, perasaan, pikiran, keahlian dan pengalaman seseorang. Oleh karena itu, setiap prakarsa yang datang dari karyawan harus dihargai. Prakarsa (inisiatif) mengandung arti menghargai orang lain, karena itu hakikatnya manusia butuh penghargaan. Setiap penolakan terhadap prakarsa karyawan merupakan salah satu langkah untuk menolak gairah kerja. Oleh karena itu, seorang manajer yang bijak akan menerima dengan senang hari prakarsa-prakarsa yang dilahirkan karyawannya.
Yang terpenting, inisiatif berkembang bila dalam usaha terdapat keadilan dan kejujuran. Dalam pengembangan inisiatif perlu diperhatikan penbagian kerja dan pengaturan wewenang dan tanggung jawab agar pegawai yang ahli dan berpengalaman memiliki wewenang yang luas.
14. Ecsprit de Corps ( Semangat kesatuan korps)
Keharmonisan di kalangan personalia perusahaan merupakan kekuatan besar bagi suatu perusahaan. Untuk itu, segala usaha ditempuh untuk merealisasikannya. Setiap karyawan harus memiliki rasa kesatuan, yaitu rasa senasib sepenanggungan sehingga menimbulkan semangat kerja sama yang baik. semangat kesatuan akan lahir apabila setiap karyawan mempunyai kesadaran bahwa setiap karyawan berarti bagi karyawan lain dan karyawan lain sangat dibutuhkan oleh dirinya.
Selain itu semangat kesatuan korps terlahir pula karena adanya disiplin pegawain akan tugas dan kewajibannya. Sehingga masing2 pegawai dapat menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
Manajer yang memiliki kepemimpinan akan mampu melahirkan semangat kesatuan (esprit de corp), sedangkan manajer yang suka memaksa dengan cara-cara yang kasar akan melahirkan friction de corp (perpecahan dalam korp) dan membawa bencana. Untuk melihat suatu usaha baik atau tidaknya dapat dilihat pula dari adam atau tidaknya semangat kesatuan korps dalam perusahaan tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)
