Laman

Jumat, 17 Desember 2010

Kacang Rebus, Si Penghias Jam Gadang


Selasa, 14 Desember 2010. Akhirnya nulis juga setelah sibuk kerja sosial di kampus. Lumayan lah, lebih 2 bulan saya ga nulis. Dan kebetulan beberapa hari yang lalu baru balik dari Bukittinggi, jadi ada bahan.
Kebetulan tanggal 2-7 desember kemaren saya pulang ke Bukittinggi dikarenakan ada urusan keluarga. Walaupun cuma sebentar, ya lumayan lah. Dan kebetulan juga, tanggal segitu juga ada kerja sosial di kampus, tapi apa hendak dikata, saya harus pulang. Tapi kali ini, kecuali keluarga di rumah, tak ada yang tau saya pulang, termasuk fany, sengaja.
Batavia Airlines jam 10.50 WIB, tapi saya blom makan. Dengan semangat tinggi saya mencari tempat makan yang lumayan murah di bandara. Sekedar informasi buat teman2 yang punya duit pas2an tapi mau makan enak dan murah di bandara, di parkiran motor Bandara Soekarno Hatta dan Bandara Internasional Minangkabau terdapat tempat makan yang lebih murah dibandingkan yang ada di bandara. Biasanya untuk karyawan bandara, tapi penumpang juga banyak koq yg makan disini, cuma orang2 banyak yg ga tau.
Singkat cerita, pesawat hampir mendarat di BIM sekitar jam 12.30. tapi, dari pengeras suara terdengar bahwa pendaratan akan ditunda dan dialihkan ke Bandara Polonia Medan. Kenapa? Karena baru saja di Padang terjadi Gempa berkekuatan 4,2 SR. Untung saja ga jadi, pesawat tetap mendarat di BIM walaupun ditunda beberapa menit.
Dari bandara, saya langsung ke kos fany sekalian bareng pulang ke Bukittinggi. Nyampe kosan nya, biasalah ada adegan dimana mata fany berkaca-kaca karena kaget dan tidak percaya melihat saya pulang. Udah ya, takut dikira sinetron.
Nah, inti sebenarnya adalah ketika saya dan fany jalan2 ke Jam Gadang, ciri khas kota Bukittinggi. Bagi orang Bukittinggi asli, jalan2 di pelataran Jam gadang adalah hal yg biasa, mungkin sangat biasa. Namun kali ini saya menemukan pengalaman yang luar biasa (menurut saya yg sotoy ini) ketika asik memotret Jam Gadang. Dahulu, banyak keluarga yang menghabiskan waktu malam nya di pelataran Jam Gadang. Sekedar melepas kepenatan sepulang kerja atau mengajak buah hati menikmati temaramnya lampu kota di bawah Jam Gadang yang menjulang tinggi. Beda dengan sekarang, Jam Gadang berdiri sendiri tanpa tawa renyah anak-anak di sekelilingnya.
Tapi, kali ini ada Keyla, gadis mungil sekitar 1 tahunan sedang asik berlarian ditemani ayahnya. Sesekali hampir terjatuh karena keyla baru belajar berjalan. Keyla berjalan ke arah saya karena tertarik melihat blits kamera. Senyum indah terlihat dari bibir mungilnya ketika beberapa kali saya foto menggunakan blits. Tak hanya Keyla, banyak keluarga lain yang masih setia bermain di Jam Gadang yang mulai ditinggalkan kaum muda.
Di sudut lainnya, seorang bapak paruh baya ditemani lampu strongkeng nya (petromaks) mulai mengantuk karena kacang rebus nya tak ada yang membeli. Diatas gerobak tua, si kacang rebus mengeluarkan asap hangat untuk menarik pembeli. Namun, tak ada lagi yang suka dengan makanan tradisional ini. Sangat berbeda dengan beberapa tahun lalu, ketika masih kecil saya diajak papa nonton layar tancap di pelataran Jam gadang. Layar berukuran 3x2 meter yg diletakkan di atas mobil bertuliskan KB. Waktu itu saya pun tak tau apa itu KB. Yang saya tau adalah kacang rebus selalu menemani saya ketika film diputar. Namun sekarang, kacang rebus hanya menjadi penghias Jam gadang yang tidak lagi digemari. Di sisi lain, bapak penjual kacang rebus masih semangat memompa lampu strongkeng nya ketika kaus nya mulai redup. Dan yang ia inginkan hanya kacang rebusnya terjual habis seperti dahulu.
Tak ada lagi suasana Jam Gadang seperti dulu, tak ada lagi senyum penjual kacang rebus yang dagangannya habis, dan tak ada lagi mobil KB yang menyediakan tontonan gratis. Yang ada hanya bangunan2 tinggi dan pusat perbelanjaan yang rame dikunjungi pembeli. Sementara pelataran Jam Gadang kosong melompong. Hanya ada Keyla dan si penjual kacang rebus yang mulai dingin tak berasap lagi.
Saya dan fany pun berjalan meninggalkan Jam Gadang menuju Kampung Cina, ditemani lampu-lampu toko yang semakin redup dan jalanan yang kosong tanpa lalu-lalang kendaraan.

Senin, 20 September 2010

Band dr SMA N 1 Bukittinggi

alpycola accoustic band.wmv

Sabtu, 18 September 2010

Bukittinggi, Kota Terindah di Indonesia

13.48 WIB, Sabtu, 18 September 2010, Kota kecil nan indah, Bukittinggi, diguyur hujan, dan tentu saja listrik padam. 76 hari 6 jam 20 menit semenjak keberangkatan ku dari pinggiran kota tempat ku menuntut ilmu. Daerah perbatasan yang cenderung kumuh dan padat oleh ilmu dan mahasiswa. Sudah lebih 2 bulan aku melepas rindu dengan suasana disini sejak tanggal 5 juli bus Bintang Kedjora langgananku melewati batas provinsi Jambi – Sumatra Barat. Dua hari perjalanan dari 3 juli membuat pinggang dan pantatku sangat tidak enak. Dan pukul 03.49 WIB dini hari akhirnya aku melihat sesuatu yang sangat kukenal. Sebuah motor Suzuki Tornado yang asap knalpotnya sering membuat ku pusing sedang parkir di depan kantor agen bus Bintang Kedjora. Ya, seorang lelaki paruh baya, sekitar 51 tahun sedang asik menikmati rokok kretek dan terlihat tubuh kurusnya diselimuti beberapa jaket tebal. Ku gendong ransel berwarna hijau tua warisan abangku dan langsung turun mencium tangan lelaki itu. “Lai baok jaket yan?” ucapnya. “Lai Pa” jawabku sambil berjalan ke motor kesayangan Papa. Dengan sekali tendangan firstime ala Roberto Carlos, si Tornado langsung memecah sunyinya pagi dengan suaranya yang sangat tidak enak. Bau khas keluar dari knalpotnya. Motor beranjak pulang sambil kunikmati indahnya Bukittinggi jam 4 pagi.
Dari kejauhan terlihat megahnya Kantor Walikota yang dihiasi temaramnya lampu jalan. Sebentar lagi aku akan sampai dirumah, ucapku dalam hati. Komplek Pemda II Gulai Bancah, tulisan di gerbang komplek yang berkarat sudah aku lalui. Itu dia, dan masih ada, jalan dari tanah tanpa aspal yang sangat becek kalau hujan turun. Diseberangnya berdiri rumah berwarna orange dan ada 3 orang yang sedang tidur nyenyak didalamnya. Ternyata Mama sudah berdiri di depan pintu, mungkin kebangun karena suara motor Papa. “Assalamualaikum” ucapku sambil mencium tangan Mama. “Walaikumsalam, baru tibo baru yan?” tanya Mama dengan mata sipit seperti orang cina. “Iyo Ma, jalan putuih di Lampuang”. “Makan lah dulu, tu lai sambalado ah, Ama ka lalok baliak, bisuak ama sakola pagi”. Ucapnya sambil masuk ke kamar. Sambalado, cabe merah kriting yang dikukus diatas nasi lalu digiling pake Batu Lado ditambah ikan asin yang digoreng kering. Ini salah satu hal yang membuatku kangen rumah. Selesai makan kulihat Vina dan Icha, dua orang adik perempuanku, dikamarnya sedang tidur dengan gaya bebas. Mereka berdua sangat bebas berekspresi kalau sedang tidur, sangat ekspresif. Lalu aku beranjak kelantai 2, ke kamar, langsug tidur, dan pingang serta pantat ku akhirnya mendapatkan tempat yang nyaman.
Jam 11.00, aku bangun, mandi, pake baju yang rapi, ambil handphone, sms, “aku brgkt”. Dan aku langsung berangkat dan sampai. Di depan gerbang rumah terlihat seorang gadis dengan rok panjang terurai dihiasi warna-warni pulkadot kecil-kecil dan motif bunga, atasannya dipadu-padankan dengan kerudung warna senada dengan baju bergarisnya. Dia adalah Mitra Fany Mahesa, pacarku. Mungkin sudah lebih 7 bulan aku tidak bertemu. “Assalamualaikum” ucapku sambil masuk kerumahnya. “Walaikumsalam, masuak lah sayang”. Jawabnya dan langsung kupotong “ Manih bana galak, dek pakai behel baru mah yo, hahahah”. Tapi matanya sedikit berair, mungkin luapan rindu lama tak bertemu sudah tak kuasa dibendungnya. Tubuh kurusku langsung dipeluk erat, “Fany taragak bana samo put”, ucapnya sambil terisak. Beberapa jam ngobrol kesana kemari, kami jalan-jalan keluar sambil cari makan. Langsung berangkat pake motor jadul punya ku.
Gggrrrr, ggrrrr, getar handphone diatas meja menghentikan obrolan kami. “Ani capek pulang, sabanta lai travel tibo”. Itu sms dari Mama nya Fany. Kami langsung pulang. Di depan rumah sudah menunggu sebuah mobil travel berwarna merah maroon. Fany bergegas mengambil barang-barangnya, izin ke Mamanya, mencium tanganku, dan masuk ke dalam travel. Ya, dia belum libur kuliah, jadi harus balik ke Padang. Mobil travelpun hilang dari pandangan mataku. “Bilo pulang yan” tanya Mama Fany pada ku. “ tadi malam tibo ma”, jawabku sambil diikuti obrolan ringan didepan rumah Fany. Beberapa saat, aku ijin pulang.
Baru satu hari bertemu udah pisah lagi, ucapku dalam hati. Tapi kali ini hanya di Padang, hanya 2 jam dari rumah. Oke, besok aku ke Padang.

Selasa, 17 Agustus 2010

pertanyaan bodoh

Saya memang sering menghubungkan apa yang terjadi sekarang dengan masa lalu saya. Menurut para motivator, saya adalah orang yag selalu dibayang-bayangi masa lalu, orang seperti saya tidak akan sukses. Tapi ini lah saya, mungkin masa lalu yang membuat saya seperti ini. Dahulu memang indah, masa itu, cerita itu, dan ini itu. Hanya masa lalu.
Ngomong-ngomong, semakin hari semakin banyak teman-teman saya yang membahas Buka Bersama. Ya, ini Ramadhan, wajar saja. Di beberapa situs jejaring sosial pun banyak saya temui tulisan mengenai ajakan seperti ini. Memang ini telah menjadi tradisi. Namun pertanyaan saya, kenapa hanya ada Buka Bersama di bulan Ramadhan? Kenapa pada hari biasa kita tidak Buka Bersama?. Pertanyaan bodoh, apalagi ada yang berfikir apa jawaban dari pertayaan ini, jawaban nya pun bodoh.
Tapi bukan itu maksud saya. Buka bersama pada hari biasa ya Buka Bersama. Bukan berarti berbuka untuk membatalkan puasa. Pergi ke sebuah tempat makan secara bersama-sama, ngobrol sana sini, yang ngobrol ya ngobrol, yang diam ya diam, tidak mau membuka diri, tetap pada area nyaman masing-masing. Bahkan ada yang tidak datang karena temannya juga tidak datang. Atau tidak datang karena teman atau ‘mantan temannya’ datang, padahal dahulu mereka adalah sahabat, bahkan lebih dari itu. Atau bisa juga karena jumlah perbedaan jenis kelamin yang datang. Sungguh saya tidak bermaksud menyingung siapa pun, karena saya juga pernah seperti ini. Kalau memang ada yang tersiggung, bilang saja. Saya akan minta maaf.
Maksud saya sebenarnya adalah kita berkumpul saling membuka diri karena kita adalah bagian dari masa lalu yang indah. Mencoba lepas dari kesibukan dan ego masing-masing. Memecahkan segelintir masalah yang muncul karena ucapan yang pedas, ego, atau masalah cinta dan perasaan yang membuat kita selama ini saling memalingkan muka dan tidak pernah bertegur sapa. Jika semua itu terlaksanakan, masa lalu itu, yang indah itu, mungkin hadir lagi.
Maaf atas ketidakpedulian dan kebenaran tulisan saya ini. Saya hanya tidak bisa tidur malam ini,

Selasa, 13 April 2010

SMA

Kalau aja tadi sore ga ada hujan badai di Jatinangor, kalau aja tadi sore antena tv gw ga patah gara-gara ditiup angin, mungkin gw ga akan kembali ke masa-masa indah waktu gw SMA. Kalau saja semua itu ga terjadi, pasti gw masih dengan santainya nonton tv di kamar kost gw. Mungkin ini sisi positif dari patahnya antena tv gw, tapi sebenarnya lebih banyak dampak negatifnya.

Gw nyalain komputer warisan kesayangan gw. Awalnya, iseng gw buka folder “High School Never Ends”. Jujur ini iseng doank, ini dikarenakan udah malam dan ga mungkin gw nyetel musik semalam ini. Pernah beberapa kali gw coba, dan hp gw dibanjiri sms yang isi nya “yan, udah malam, kecilin donk musiknya, gw mw tidur”. Dan itu udah diubah menjadi kalimat bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai EYD. Kalau ditulis aslinya, jangan deh, nati orangnya baca.

“High School Never Ends”,double klik, dan munculah beberapa folder berisi foto dan video. Ada folder Study Tour, Jalan2, Mau2, XII IS 2, XII IS 1, dan Perpisahan Bushido 08. Maav, gw ga punya folder dengan nama XII IA xx, dan itu bukan salah gw. Salahin aja si Kacang, “tukang dokumentasi spesialis hp” yang Cuma ngejepret anak2 IPS, hahahaha.

Cursor mouse gw bergerak menuju sebuah folder, double klik, dan kalau dihitung ada ratusan foto dalam folder ini plus videonya. Ya, folder “Perpisahan Bushido 08”. Gw buka satu per satu video yang berformat 3GP ini, maklum jaman gw SMA hp merupakan salah satu alat yang bisa dipake buat mengabadikan suatu moment.

Yang paling berkesan adalah sebuah video yang di dalamnya berisi jejeran lelaki dan wanita paruh baya yag sedang meneteskan air mata sambil memberi restu pada calon-calon penerus bangsa untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Ratusan pasang mata yang mengucurkan cairan bahagia dari mata mereka yang diiringi lagu Hymne Guru. Para pemimpi ini tak henti-hentinya mencuim tangan-tangan kurus sang pahlawan tanpa tanda jasa yang sudah termakan usia. Tangan-tangan yang sudah mulai keriput dan dihiasi satu-dua cincin 24 karat. Ini lah tangan-tangan yang setiap hari melecut semangat kami, Bushido 08, para pemimnpi dari Bukittinggi, untuk mulai meniti mimpi.

Dan gw adalah salah satu dari pemimpi tersebut. Gw masih ingat ketika seorang guru paruh baya dengan kerudung hijau yang sepadan dengan baju dinasnya, menghapus tetes-tetes air mata di pipi gw dengan cinta dan kasih sayangnya. Semakin deras air mata yang keluar dan semakin erat pelukan gw, dalam hati gw berbisik ”Terima kasih Ibu”.

Sekarang para pemimpi ini sedang menggapai mimpi-mimpi mereka di berbagai tempat. Singapore, Malaysia, Jakarta, Bandung, Jogja, Medan, Pekanbaru, Padang, dan ada yang masih tetap di Bukittinggi. Tempat bukanlah halangan dalam menggapai mimpi, asalkan tekun dan mau berkerja keras, semua mimpi pasti akan menjadi kenyataan.

Mey 2010, hampir dua tahun gw lulus, tapi rasanya belum ada satupun hal yang berarti yang udah gw berikan buat SMA gw, SMA N 1 Bukittinggi. Tapi walaupun begitu, dalam hati gw akan selalu terukir nama mu, tempat menuntut ilmu dan menemukan pengalaman baru, SMA Negeri 1 Bukittinggi

23.29 WIB
Minggu, 11 April 2010
Jatinangor

Jumat, 26 Maret 2010

Ericsson R320s, Handphone Tercanggih Tahun Ini



Apa yang anda pikirkan setelah melihat handphone ini?? Tipis dan jadul?? Atau malah kepikiran batu bata, walky talky, atau serutan es krim yang sering kita beli jaman SD dulu??. Setau saya, ini adalah hp jadul paling tipis di Jatinangor.
Bagi orang-orang seperti saya yang hobi sm barang2 jadul, hp ini memberikan kebanggaan tersendiri. Saya ketularan koleksi hp jadul dari kakak saya. Waktu itu, kakak saya make hp Nokia ntah tipe berapa yang gede dan ada antenanya. Sebenarnya Ericsson R320s ini adalah hp jadul ketiga saya. Yang pertama adalah Ericsson T10 berwarna ungu. Hp ini batrai nya rusak dan susah bgt nyari batrai originalnya. Sempat saya pakai batrai yg bukan original, tapi ga tahan lama. Ya udah hp ini saya pajang aja di rumah. Kemudian saya ditawari Nokia entah tipe berapa, lumayan gede dan ada antenanya juga, warna nya hitam. Ga nyampe setahun, LCD dan batrai nya bermasalah. Jadi ga ada tulisan yang muncul di layarnya, ditambah lagi hp ini ga ada getarannya karena batrai nya udah ga bagus. Dan lagi-lagi menjadi pajangan. Nah, yang masih awet sampai sekarang ya si Ericsson R320s ini.
Dari informasi yang saya dpt, hp ini keluaran tahun 1988. Untuk tahun 88, tentu hp ini tergolong sangat mewah. Harga nya aja waktu itu sekitar 1,2 juta. Bayangin aja uang segitu tahun 88, mungkin setara sm harga Blueberi sekarang. Fitur yang ada pun lumayan lengkap. Yg jelas hp ini bisa dipake buat nelpon dan sms. Signal sgt bagus walaupun ditengah hutan, diatas gunung, bahkan di Jatinangor. Kelebihan hp ini terletak pada games dan WAP Service-nya. Games ada dua, tetris dan solitare yang ky di komputer, Waaaw, hebat sekali. Nah, WAP Service ini yang ga saya ngerti sampai sekarang. Namun ada satu kekurangan dari hp ini. Kalau antenanya hilang, otomatis ga akan bisa di pake buat nelpon dan sms
Walaupun hp saya sering menjadi bahan ketawaan di kampus, tapi lumayan lah biar ga garing2 amat. Ada yang bikin ketawa klo lagi ga ada yg lucu. Ehhh, 20 tahun lagi hp saya ini jadi barang antik ga ya?? Trus harganya jadi mahal?? Trus saya dicari-cari kolektor barang2 antik, trus hp saya ditawar 1 triliun, saya jadi kaya deh, hahaha.